Tampilkan postingan dengan label etika akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label etika akuntansi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

9. ETHICS, INTELLECTUAL CAPITAL, AND ACCOUNTING REPORTING



INTRODUCTION
Bab ini akan membahas muncul modal intektual dalam pelaporan perusahaan, dan lebih khusus, memperkenalkan sebuah contoh dari usaha perusahaan untuk mengukur dan melaporkan pada kategori modal intelektual bahwa mereka menamainya pengetahuan etika. Ada beberapa signifikansi dari informasi dalam ekonomi kita bahwa beberapa ahli yang berbicara mengenai kapitalisme pengetahuan. Hal ini penting untuk melihat bahwa pengetahuan dan teknologi tidak hanya dilihat sebagai kunci kesuksesan ekonomi global, tetapi juga sebagai kunci untuk menghidupkan kembali demokrasi. Banyaknya teknologi infromasi dan komunikasi menyediakan kesempatan untuk pengamatan dan pengikisan sumber daya manusia. Oleh karena itu, beberapa perusahaan mulai untuk membangun dan melaporkan etika sebagai kategori dari modal intelektual sehingga kita dapat melihat implikasi dari pembangunan ini untuk kemungkinan demokrasi partisipatif yang lebih baik.  Hal ini didasarkan pada pengaitan antara ekonomi dan akuntansi dimana pengetahuan ekonomi dan akuntansi bisanya dikaitkan dengan perbedaan antara nilai buku dan pasar. Ini membuktikan bahwa akuntansi gagal untuk melihat sifat dasar dari sumber kunci keunggulan kompetitif perusahaan. Ini dapat bermanfaat untuk memperhatikan bahwa jenis dari pengungkapan cukup berbeda dari bentuk laporan yang disediakan oleh CSR. Laporan modal intelektual menunjukkan jenis atensi berbeda berkaitan dengan sumber daya manusia dan orientasi dari modal intelektual. Laporan ini mempertimbangkan sumber daya manusia sebagai aset perusahaan dan menguji bagaimana itu dapat dibangun dengan baik berdasarkan strategi manajemen. Amartya Sen menyatakan bahwa kita naïf dan salah jika mengasumsikan bahwa bisnis dan etika adalah prinsip yang tidak berkaitan. Satu kaitan antara pelaporan modal intelktual dan etika berhubungan dengan luasnya pengetahuan etika yang timbul sebagai kategori modal intelektual seperti perusahaan menjadi lebih sadar terhadap sumber yang tidak diakui dari keunggulan perusahaan.     
INTELLECTUAL CAPITAL : CONTEXT, CHARACTERISTIC, AND CONCEPT
The Composition of Intelectual Capital
Beberapa mengidentifikasi tiga tipe dari modal intelektual yang berbeda : manusia, struktural dan hubungan, dan lainnya mewakili empatbempat komponen yang terdiri dari aset pasar, aset berpusat pada manusia, kepemilikan intelektual, dan aset infrastruktur. Beberapa model membuat perbedaan antara elemen internal dan eksternal. Struktur internal melingkupi sesuatu seperti paten, sistem dan model computer, sedangkan ekternal melingkupi sesuatu seperti hubungan perusahaan dengan pelanggannya, merek dagang, dan merek. Taxonomi lainnya mulai untuk tidak menyaring apa yang sumber daya manusia cakup pada hal khusus. Klasifikasi lainnya adalah membagi sumber daya manusia ke dalam sifat dan nilai karakter psikologi, serta pengetahuan. Taxonomi ini akan membantu kita mengidentifikasi pokok pikiran yang berulang dalam kategori dan komposisi yang berbeda dari modal intelektual.   
Knowledge
Diskusi mengenai kapitalisme pengetahuan mengarahkan pada isu tipe yang berbeda dari pengetahuan dan cara untuk mengetahui bukanlah sesuatu yang mengejutkan. World Bank menyarankan bahwa ada dua jenis yang berbeda dari pengetahuan yang penting untuk negara berkembang, (1) pengetahuan teknologi, atau mengetahui-bagaimana, (2) pengetahuan mengenai atribut (dengan kata lain bagaimana kamu mengetahui kapan sesuatu itu kualitasnya bagus). Ada yang membaginya menjadi pengetahuan dikodifikasi dimana dapat diubah ke dalam format elektronik dengan cukup mudah dan pengetahuan yang tersembunyi  sangat sulit dipisahkan dan diterjemahkan ke dalam bentuk yang mudah diakses kepada yang lain. Pengetahuan dan sifat dasar dari pengetahuan adalah tema kunci dalam diskusi modal intelektual.
Managing and Measuring Knowledge
Beberapa literature manajemen menyatakan penggunaan teknik analisis jaringan sosial untuk memetakan jaringan informal hubungan pekerja. Hubungan ni biasanya dipetakan dalam hubungan untuk tema seperti ‘jaringan advis’ dan ‘jaringan kepercayaan’. Cara untuk mengukur tingkatan sumber daya manusia dapat menggunakan jumlah pekerja luluan universitas sebagai pengukuran pendidikan atau jumlah hari pelatihan per karkayan sebagai pengukuran cost pendidikan; dan kuesioner pada kepuasan kerja untuk mengukur motivasi. Berdasarkan review literature, mereka menyatakan bahwa kepemimpinan, kepuasan pekerja, moivasi pekerja dan jumlah tahun dari pengalaman dipersepsikan menjadi indicator yang paling beguna dalam hubungan dengan sumber daya manusia. Kritik dari pengukuran ini adalah mendorong sumber daya manusia ke dalam tipe pengukuran adalah refleki dari mentalitas kalkulatif akuntansi dan pemikiran manajer yang mengurangi kesadaran manusia menjadi perangkat angka.
ETHICS AND THE KNOWLEDGE ECONOMY
Tantangan etika baru yang berkaitan dengan ekonomi pengetahuan secara spesifik dan berkaitan dengan etika pengumpulan dan proteksi informasi. Bagian yang lain fokus pada etika implisit dari ekonomi pengetahuan, modal etika dibutuhkan untuk ekonomi pengetahuan bekerja dengan baik. Ada bentuk risiko baru dikaitkan dengan ekonomi pengetahuan dan kepercayaan adalah hakiki. Ini secara khusus kasus dalam hubungan dengan berbagi pengetahuan, isu hak milik dan kodofikasi dari pengetahuan yang tersembunyi. Kepercayaan, solidaritas dan perangkat nilai yang sama dipertimbangkan menjadi bagian penting untuk model organisasi baru dengan ekonomi pengetahuan. Etika dipandang sebagai fasilitator jaringan yang penting. Etika menjadi penting secara fungsional dalam bentuk baru dari kapitalisme. Tantangan dan dilemma etika muncul dari karakteristik bentuk organisasi baru dari ekonomi pengetahuan. Dalam istilah orientasi spasial, sifat dasar yang terpecah dari jaringan pengetahuan dapat menghasilkan kurangnya pengendalian dan kesesuaian ‘disagregasi etika dan tangung jawab hukum’. Ada juga etika dan isu organisasi yang disebabkan oleh waktu yang bergerak cukup cepat. Sebagai organisasi yang berkembang secara cepat, mereka mungkin tidak mempunyai waktu untuk memperoleh dan membangun konteks budaya organisasi yang mencukupi. Ini dalam konteks bahwa nilai dan etika dianggap meningkat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan lebih lanjut. Ketika sebuah apresiasi dari ‘pentingnya peningkatan dari struktur moral dalam memfasilitasi jaringan pengetahuan dan melindungi pertumbuhan ekonomi, tipe pengetahuan ini belum dieksplorasi dalam disiplin akuntansi dalam berbagai detail. Ketika ada beberapa pengakuan dari nilai kerja yang disyaratkan oleh manajemen dalam masa pengetahuan baru, ada sedikit keterlibatan teoretis dengan bagaimana kita dapat mengonseptualkan kerja ini dan analisis kecil dari jenis kerja dapat berjalan dalam konteks organisasi untuk menghasilkan, mempertahankan, dan mengelola nilai.       
CASE STUDY : ETHICAL KNOWLEDGE IN CARL BRO’S INTELLECTUAL CAPITAL STATEMENTS
Studi kasus ini akan menyediakan kita dasar untuk menelusuri beberapa pertanyaan penting dalam hubungan dengan kemungkinan berpikir mengenai etika sebagai aset tak berwujud dan elemen dari modal intelektual.
Enumerating and Managing Ethics as A Purpose of The Firm,1999
Pada akun modal intelektual tahun 1999, Carl bro menyajikan etika sebagai satu dari definisi karakteristik perusahaan. Perusahaan secara jelas berusaha membawa pandangan etika sebagai bagian kunci dari modal intelektual dan sungguh, pengetahuan etika terlihat dikaitkan dengan pemahaman dari mengapa perusahaan ada. Ini adalah poin yang penting karena ini menantang berapa luas kamu akan menemukan dalam buku keuangan dan apakah kamu mungkin diajar alam pelajaran keuangan : asumsi bahwa perusahaan dasarnya hanya untuk memaksimalkan profit.Carl Bro percaya bahwa mereka ada untuk memproduksi solusi intelegensi secara etis. Ada beberapa poin yang kita dapat membuat hubungan dengan bagian pertama modal intelektual. Pertama, etika tampaknya dibangun sebagai aset struktural dan aset berpusat pada manusia. Kedua, fungsi kunci dari pernyataan modal intelektual adalah membawa aset ke dalam wujud dan menyerahkan mereka untuk dikelola. Dalam ICR pertama, Carl Bro secara jelas berusaha untuk menyajikan pengetahuan etika sebagai jalan kunci dari pemahaman mengapa perusahaan ada dan juga berusaha untuk membuat itu dapat dikelola.
Community Engagement and Management Policy, 2000
 Akun tahun 2000 mengelaborasi hanya sedikit pada apa yang guideline perlukan. Dalam ‘Perilaku Etika’diimplikasikan bahwa beberapa kemampuan ahli (manusia) untuk merefleksikan pada ‘komunitas lokal’, kesejahteraan individu’ dan ‘lingkungan’ dibutuhkan untuk solusi menjadi ‘benar-benar secara etika’ dan dalam usaha untuk menimbulkan tipe dari dalam, dan mungkin juga untuk membawa tujuan untuk mengelola etika, “manajemen telah mempersiapkan kebijakan perilaku etika.
Budgeting for Ethics and Responsibility, 2003
Pengungkapan Carl Bro pada modal inteletual dimasukkan ke dalam laporan akuntansi tahunan perusahaan. Ini dikaitkan pada indicator yang dapat diukur, ‘kemampuan unit bisnis untuk bertindak berdasarkan praktik etika’, seperti yang terekam via Survey Kepuasan Pekerja. Perangkat dari target ini untuk ketaatan etika terlihat untuk menyjikan pembangunan lebih lanjut dalam proses pembuatan ‘etika’ sebuah komponen yang dapat dikelola dari modal intelektual.
From Ethics to Risk and Compliance, 2005
Risiko, ketaatan, dan integritas memasuki kosa kata sebagai bagian narasi dari modal etika Carl Bro. Perubahan ini terlihat untuk mengindikasikan perubahan dari luasnya koreksi secara etika solusi intelegensi dan sebuah komitmen yang diasosiasikan untuk berkontribusi pada debat publik, komunitas, kesejahteraan individu, dan lingkungan. Hal signifikan lainnya pada laporan 2005 adalah diskusi dari implemantasi BIMS yang disajikan sebagai bagian penting dari modal struktural. Tiga contoh laporan menyediakan pemahaman mengenai usaha Carl Bro untuk mengidentifikasi dan mengomunikasikan etika sebagai kategori produktif dari manusia dan modal struktural.     
DEMOCRATIC POTENTIAL AT THE MARGINS?
Ekonomi pengetahuan mempertahankan prospek menghidupkan kembali demokrasi. Kita akan berpikir mengenai pembedaan antara modal etika sebagai sebuah praktik yang mungkin melayani bisnis secara eksklusif dan jenis dari modal etika bahwa dapat melayani tujuan masyarakat dan demokrasi. Beberapa konsep dan eknologi lain yang rutin kita pakai dalam hidup kita dan mulai untuk menelusuri hubungan potensial dengan cara alternatif dimana etika dapat dibangun sebagai sebuah aset, sebagai bagian dari modal intelektual.
Ethics Facebook and Network Science
Beberapa pemikiran baru dalam ilmu jaringan mungkin menyediakan dasar untuk pergeseran dari padangan etika sebagai outcome dari proses dialog yang rasional, atau etika sebagai prestasi individi, menuju pada etika sebagai prestasi jaringan. Menerapkan perspektif jaringan pada etika mungkin seakan-akan mengarahkan kita untuk menelusuri jenis bentuk jaringan organisasi, perusahaan dan lainnya, dibutuhkan untuk etika normatif pada kerja, atau pada moral sense fungsi. Ide ini mungkin bekerja hanya dalam jenis tertentu dari konfigurasi jaringan dari hubungan, jaringan yang menyediakan kita dengan koneksi dalam kehidupan manusia.
Open Source Ethics
Pendekatan sumber terbuka telah diajukan sebagai metodologi yang lebih umum untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Pada hal yang sama, kita mungkin bisa paling tidak memulai untuk ‘membayangkan’ bagaimana pendekatan sumber tebuka dapat diaplikasikan pada kode etika, dilemma etika dalam atura perusahaan dan membangun database pengetahuan etika sekitar dilemma tersebut.
Blog, Pods, and Ethics
Contoh bentuk yang lebih demokratis paling potensial adalah teknologi pengetahuan mungkin ditemukan dalam teknologi jaringan dari kelompok aktivis dan pengembangan media independen di web. Contoh dari model jaringan dari etika dapat ditemukan dalam tipe podcast dan blog pada jaringan dan perusahaan aktivis. Tipe dari inovasi ini mugkin digunakan sebagai prototype dari menangkap bentuk implisit dan lainnya dari pengetahuan etika dan jaringan pembangunan pengetahuan etika lebih umum dalam perusahaan atau termasuk perusahaan. Tentu saja, semua teknologi baru dapat menghasilkan pengamatan, kolonialisasi, dan mentalitas pemerintah yang lebih, tetapi mereka melakukan mitigasi terhadap pandangan yang terlalu sederhana dan terlalu menindas dan negatif dari potensi dari ide dan pengembangan ekonomi pengetahuan.

Jumat, 21 Maret 2014

2. Descriptive perspectives on accounting ethics : What factors influence the way accountants respond to ethical dilemmas?

Bab ini akan mengidentifikasi dan memberikan pemahaman mengenai faktor yang dapat mempengaruhi bagaimana individu merespon secara spresifik dilemma moral dalam praktik. Pendekatan etika yang digunakan adalah etika deskriptif. Etika deskriptif berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas  yang membudaya.
Etika Akuntan dan Profesi Lainnya
Ada banyak kasus yang terjadi berkaitan dengan etika seorang akuntan. Peter Harriss Abbott yang menjadi “akuntan terkemuka” yang ditetapkan oleh Lord Chancellor sebagai salah satu akuntan yang dapat menangani kasus kebangkrutan. Akan tetapi, Abbott melakukan kecurangan dan melarikan diri ke Brussels. Kasus Enron menjadi contoh lain tindakan tidak beretikanya seorang akuntan. Kasus Enron terjadi karena perusahan melakukan manipulasi data laba yang diperolehnya dan outsourcing secara total atas fungsi internal audit perusahaan yang pegawainya berasal dari KAP yang melakukan fungsi audit eksternal.
a.    Mantan Chief Audit Executif Enron (Kepala internal audit) semula
adalah partner KAP Andersen yang di tunjuk sebagai akuntan publik perusahaan.
b.   Direktur keuangan Enron berasal dari KAP Andersen.
c.    Sebagian besar Staf akunting Enron berasal dari KAP Andersen.
Tak hanya itu, KAP bersalah atas tuduhan melakukan penghambatan dalam proses peradilan karena telah menghancurkan dokumen-dokumen Enron yang sedang di selidiki. Karena banyaknya kasus etika yang menjerat akuntan, banyak yang mempertanyakan etika seorang akuntan.
Karakteristik Profesi Akuntan
Banyak penelitian yang mengungkapkan hasil mengkhawatirkan mengenai kecenderungan etika mahasiswa dan praktisi akuntansi. Artikel Gray (1994) menemukan bahwa pendidikan yang didapatkan mengambil peran penting dalam pembentukan etika mahasiswa. Hal yang penting dalam pendidikan akunatansi adalah membangun kemampuan intelektual, pekerja yang terdidik dalam bidang akuntansi, dan hanya mempersiapkan ujian bagi seorang professional (menurut beberapa pendapat yang dimuat di Gray,1994). Bahkan Gray menyatakan bahwa pendidikan bisnis dan akuntansi mempunyai efek negatif pada pembangunan etika mahasiswa. Mayer menemukan bahwa mahasiswa bisnis tidak mengakui isu tanggung jawab sosial berkaitan dengan profesionalisme. Pertama, hal ini disebabkan oleh doktrin bahwa bisnis hanya untuk memproduksi barang dan jasa untuk membuat laba dan etika dan tanggung jawab sosial merupakan hal yang tidak penting dalam pembuatan keputusan, kecuali mempunyai dampak langsung terhadap produksi maupun profit. Kedua, profesi akuntan juga menyalahkan ketidakadaan bagian etika yang lebih baik pada kurikulum profesi.
Profesi Lainnya
Profesi lainnya juga memiliki masalah yang sama dengan perilaku etika. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada krisis yang luas dalam profesionalisme yang mungkin berhubungan dengan pergeseran perilaku terhadap gagasan profesi.
Moral Development Model’s
Kohlberg’s Model
Kohlberg memiliki gagasan mengenai model untuk menentukan apakah seseorang atau profesi beretika atau tidak yang dinamakan Cognitive Moral Development. Model ini sering digunakan untuk mengukur moral maturity individu berdasarkan respon mereka kepada seri dilemma hipotetikal. Ada tiga level moral maturity individu yaitu pre-conventional, conventional, dan post-conventional. Setiap level terbagi menjadi dua tahapan. Pada tahapan pre-conventional, individu memiliki kecenderungan moral maturity untuk menolah hukuman dan mementingkan kepentingan pribadi. Pada tahapan conventiona, individu memiliki kecenderungan moral maturity yang berdasarkan kepentingan kelompok dan hukum sosial. Pada level terakhir, individu memiliki kecenderungan berdasarkan prinsip moral universal.
Gilligan’s Model
Model ini dikenal dengan etika kepedulian yang menyajikan pandangan yang lebih tertanam dan empatik dalam pengembangan etika.
Atribut Individu dan Perilaku Etika : efek dari Umur dan Gender
Gender lebih diarahkan kepada sifat, bukan kepada factor biologis. Gender, maskulin dan feminis, mempengaruhi perilau etika individu. Umur pun mempengaruhi akuntan terlibat dalam dilemma akuntansi. Umur mempengaruhi seorang akuntan terkait dengan dilema moral.

Etika dan Karakteristik Struktural
Budaya
Banyak bukti yang mengatakan bahwa perbedaan budaya akan berdampak pada etika, walaupun ada yang membuktikan bahwa budaya tidak memiliki pengaruh. Jakubowski dkk. menyarankan bahwa perbedaan kewarganegaraan merefleksikan kode etik akuntan lintas negara. Akan tetapi, Lysonski dan Gaidis menemukan bahwa respon mahasiswa terhadap dilemma etika cenderung sama.  
Organisasi dan Kelompok Individu
Penelitian menyatakan bahwa pembuatan keputusan etika individu dapat berubah ketika mereka menjadi bagian lebih dari kelompok formal. Hal ini disebabkan oleh fenomena “grupthink.” Saat ini, pengaruh keanggotaan kelompok pada perilaku etika telah diperluas melalui ide analisis network.  Literatur juga menyarankan bahwa etika individu seringkali berubah berdasarkan posisi dan tingkatan pekerjaan individu dalam organisasi.
Kategorisasi : Etika dan Peran yang Dimainkan Akuntan
Etika seorang akuntan tidak hanya dihasilkan oleh lingkungan kerja, tetapi juga lingkungan diluar lingkungan kerjanya. Jika seorang akuntan berpikir mengenai isu akuntan dengan cara yang dari kelompok lain, kategori cara yang berbeda akan muncul. Psikologi Kognitif berkembang karena nilai-nilai yang berada di kelompok lain akan memberikan nilai, norma, dan perilaku yang berkaitan dengan life domain yang berbeda.
Etika dan Sifat Dasar Dilema : Etika Situasional
Penelitia juga mengakui bahwa sifat isu etika itu sendiri juga penting dalam memahami kecenderungan etika individu itu sendiri. Ada dua isu yang berkaitan dengan sifat isu etika itu sendiri
Moral Intensity
Intensitas moral dipengaruhi oleh sifat dari sebuah konsekuensi, consensus sosial, posibilitas dampak yang ditimbulkan, kedekatan sementara, kedekatan, dan konsentrasi dampak.
Moral Framing
Moral framing menyarankan bahwa individu merespon dilemma etika dengan dua cara tergantung pada kerangka yang mereka alami. Dua alatnya yaitu bingkai bahasa dan bingkai pemikiran etika.

4. Filosofi Moral Politik dan Etika Akuntansi : Mengapa Akuntan Harus Menjadi Baik?

Bagian akan membahas perdebadatan antara self-interest dari pribadi akuntan atau interest profesi dan fokus pada basis sosial-politik yang lebih luas dari perilaku etika. Bagian ini akan mengulas singkat beberapa literature filosofi moral politik  lebih luas untuk membangun pemahaman lebih lanjut dalam etika akuntansi atau paling tidak menyoroti pertanyaan fundamental bahwa pemahaman etika yang melonjak mengenai akuntansi harus digunakan. Literatur ini akan dibagi dua bagian. Bagian pertama adalah aliran tradisional yang menggambarkan pemikiran yang berlimpah yang dapat ditelusuri dari Jean-Jacques Rousseau dan konsepnya mengenai kotrak sosial. Bagian kedua adalah literatur post-structualist atau postmodern menyediakan titik yang berlawanan pada sejarah demokrasi politik. Tujuan dari dua bagian ini adalah memperluas jenis pertanyasan etika yag dialamatkan oleh akuntan ketika mereka mempertimbangkan etika profesional.
Rousseau dan Komunitas : Atau Siapa Saya?
Rousseau dikenal dengan kontrak sosialnya yang mencakup tidak hanya pada perilaku individu, seperti kebanyakan pertanyaan fundamental “siapa saya?” perspektif Rousseau adalah sebuah cakupan bahwa padangan mereka sendiri tidak diisolasi pada individu, tetapi lebih sebagai masyarakat, anggota dari kelompok dengan tanggung jawab seiring kepada orang lain tetapi juga tanggung jawab masyarakat secara umum kepada kelompok sebagai satu kesatuan. Gambaran Rousseau dari individu yang berada dalam komunitas, dengan tanggung jawab masyarakat kepada komunitas tersebut, menimbulkan pertanyaan yang menantang untuk akuntan. pertanyaan di awal adalah bagaimana akuntan mempersepsikan komunitas professional mereka, dan juga meluas pada fungsi dari akuntan pada masyarakat dan tindakan individu akuntan yang mungkin dibangun sebagai badan untuk melayani tujuan masyarakat. Fakta dari pendidikan akuntansi didasarkan pada asumsi implisit bahwa akuntansi berkontribusi pada pembangunan masyarakat karena dapat memaksimalkan utilitas keuangan dan membantu untuk melanjutkan sistem ekonomi liberal pasar bebas. Dari pengalaman, kita dapat membuat dua observasi, (1) mahasiswa dan praktisi akuntansi tidak terlihat sadar bahwa praktik akuntansi didasarkan pada sejumlah asumsi moral fundamental mengenai bagaimana itu berkontribusi pada masyarakat, (2) karena semua setelah Enron berupaya untuk mengarahkan kurangnya pendidikan etika  dalam profesi.
Hak dan Kewajiban
Perspektif Rousseau biasanya diasosiasikan dengan diskusi yang berkaitan dari hak dan kewajiban individu. Hubungan antara Rousseau dan hak terletak pada asumsi bahwa cara terbaik untuk memperkenalkan dan mempertahankan komunitas adalah mengakui bahwa anggota dari komunitas itu mempunyai hak yang pasti. Dalam akuntansi keuangan, praktik penyediaan seperangkat akun keuangan didasarkan pada hak berdasarkan hukum. Karena shareholdes adalah pemilik perusahaan, hak milik mereka memberi mereka hak informasi mengenai bagaimana uang mereka dan sumber daya digunakan. Bagaimanapun, ada badan yang berwenang yang menelusuri bagaimana perusahaan mempunyai kewajiban untuk memproduksi informasi untuk stakeholder berdasarkan hak asasi manusia. Yang menjadi pertanyaan adalah menentukan secara jelas hak asasi manusia yang harus dipunyai. Universal Declaration of Human Right mencantumkan hak asasi manusia secara komprehensif yang dapat dijadikan hak dasar bagi semua orang. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah (1) ketika shareholder perusahaan mempunyai hak berdasarkan hukum saat menerima informasi, apakah kita berpikir mereka mempunyai hak untuk profit yang dihasilkan oleh perusahaan? Apakah pemilik perusahaan mempunyai hak profit, dan berapa banyak profit yang menjadi hak mereka? (2) apakah dari hak yang digambarkan pada deklarasi mempunyai konflik dengan hak dengan pemilik organisasi untuk menerima return dari investasi mereka?
Bagian kunci dari perdebatan ini adalah bagaimana hak individu ditentukan dan dipaksakan. Filosof Thomas Habermas mencoba untuk mengarahkan pertanyaan dengan memulai dari asumsi dasar mengenai keadaan awal manusia. Hobbes, dalam karyanya bernama Leviathan, memulai dari posisi yang berbeda. Dia mengasumsikan bahwa individu mempunyai kecenderungan alami untuk menjadi prihatin terutama mengenai kepentingan mereka dan kemanusiaan. Hobbes mengatakan bahwa manusia secara alami mempunyai kepentingan pribadi, menyadari bahwa lepasnya kepentingan pribadi bukan pada kpentingan terbaik mereka, dan bahwa, pada faktanya, cara terbaik untuk mengamankan kebebasan individu adalah tunduk pada negara, dengan beberapa persyaratan tentu saja. John Stuart Mill menelusuri pertanyaan sejauh mana masyarakat masyarakat dapat menerima secara sah kebebasan individu. Banyak analisis Mill berfokus pada apa yang diketahui sebagai prinsip merugikan, dimana menyatakan bahwa tindakan diperbolehkan sepanjang tidak merugikan orang lain. Filosof selanjutnya adalah John Locke yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Hobbes. Locke menyatakan argument yang mirip untuk mengapa individu ingin menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah, bagaimanapun, Two Treaties of Government menunjukkan arah fungsi legitimasi dari institusi pemerintah dan bagaimana mereka melanjutkan pengamanan untuk legitimasi tersebut. Berdasarkan Rousseau, Hobbes, dan Locke, etika individu tidak lepas dari kaitannya dengan konteks lebih luas dari institusi pendukung. Poin dari pernyataan ini adalah bahwa akuntansi adalah praktik institusi.
Di atas telah dijelaskan bagaimana Universal Declaration of Human Right mencantumkan hak asasi manusia secara komprehensif yang dapat dijadikan hak dasar bagi semua orang. Cairo Declaration on Human Right dalam Islam menyajikan alternative hak dasar manusia. Hal ini penting dibahas karena pembahasan chapter ini menelusuri satu perspektif mengapa persoalan perilaku kita dan hubungan perspektif ini dengan pandangan umum hak asasi manusia. Alasan mengapa individu harus beretika dikaitkan dengan kepercayaan, dan hak individu diberikan oleh Tuhan. Ada dua praktik yang mengindikasikan kepercayaan dan praktik akuntansi. Pertama yaitu, Quakerism dan Ethical Investment yang mencoba untuk menerjemahkan kepercayaan mereka ke dalam keuangan. Methodists dan Quakers secara khusus memainkan peran berpengaruh dalam pengembangan Ethical Investment di UK dan US dimana mereka melarang investasi pada hal-hal yang terlarang, seperi rokok, persenjataan, alcohol, dan judi. Kedua, Akuntansi Islam. Akuntansi Islam dalam sistem Keuangan Islam dikondisikan dengan hukum syariah. Sistem Keuangan Islam melarang riba, pemberian yang harus dirahasiakan, dan alokasi dari dana lebih diberikan berdasarkan pada proyek yang bermanfaat dibandingkan pada return keuangan yang diekspektasikan.
Literatur filosofi moral politik mendorong kita berpikir profesi akuntan sebagai bagian dari struktur institusi politik, dan ini juga menyarankan bahwa banyak pertimbangan dari etika akuntansi harus memasukkan sejumlah refleksi konseptualisasi hak yang mempraktikkan dukungan akuntansi.
Emmanuel Levinas dan Fenomenologi Etika, atau Apakah Etika
 Levinas dan Rousseau menyajikan posisi yang berbeda, ada semakin banyak literature akademik yang fokus pada sinergitas antara mereka, khususnya pada hubungan aspek relasional etika dan pertanyaan “siapa saya?” persepektif Levinas terlihat secara signifikan dipengaruhi oleh sejarah Yahudi dan satu jalan untuk memulai kases pemikiran Levinas memulai sejarah dalam Old Testament. Pendirian Levinas adalah dalam merespon klaim orang lain bahwa individu menjadi subjek etika. Oleh sebab itu Levinas menelusuri aspek yang berhubungan dengan moralitas dari perspektif yang cukup berbeda dengan Rousseau. Zygmut Bauman mengungkapkan posisi Levinas sebagai berikut, “moralitas memulai dalam ‘tampakan per tampakan’, dan ‘moralitas adalah perjumpaan dengan yang lain sebagai tampakan.’ Tampakan, seperti kebanyakan aspek lain etika Levinas cukup tumpul, tetapi kita berpikir bahwa makna dikaitkan dengan fakta bahwa Levinas adalah murid dari Edmund Husserl, bapak fenomenologi. Levinas membawa perspektif fenomenologi ke dalam studi etika. Perspektif fenomenologi dimulau dengan pertanyaan ‘bagaimana sesuatu mewakili dirinya sendiri kepada kami?’ Jadi, boleh jadi ini tidak mengejutkan bahwa Levinas datang untuk bertanya,’bagaimana pengalaman etika menwakili dirinya sendiri kepada kami; apa yang akan diberikan oleh etika?’  dia menyimpulkan bahwa itu mewakili dirinya sendiri melalui orang lain, melalui perjumpaannya dengan tampakan; melalui tampakan ke tampakan. Levinas sangat tertarik pada fenomenologi dari kelainan dan menempatkan fenomenologi pemberian etika dalam hubungan antara diri dan orang lain.
Zygmunt Bauman menjelaskan ide Levinas dari asimetri etika :”tampakan ditemukan jika, dan hanya jika, hubungan saya kepada orang lain terprogram tidak simetris; ini tidak bergantung pada masa lalu, sekarang,diantispasi atau diharapkan untuk dibalas orang itu. Dengan kata lain tidak berkaitan dengan hak dan kewajiban seseorang. Dari perspektif Levinas, kita menjadi makhluk bermoral hanya dengan mengakui tanggung jawab kita kepada orang lain, individu, bukan pada kumpulan orang-orang yang dikatakan masyarakat.